The Road Home: Dari Lorong Kampus Menuju Ekosistem Global — Sebuah WordPress Origin Story

·

Saat ini, di era di mana kecerdasan buatan (AI) bisa merakit website dalam hitungan detik, tren “vibe coding” (menulis kode hanya dengan prompt AI tanpa benar-benar memahami dasarnya) sedang mencapai puncaknya. Sebagai akibatnya, banyak developer berlomba-lomba mencari alat atau CMS baru yang paling instan.

Selain itu, bermunculan banyak tools revolusioner yang menjanjikan kemudahan absolut. Namun anehnya, di tengah semua kemudahan dan disrupsi teknologi ini, saya justru memilih jalan memutar. Sebaliknya, saya kembali mendalami alat-alat dasar dan fitur bawaan dari WordPress.

Memang, bagi sebagian orang, hal ini mungkin terdengar seperti langkah mundur. Walaupun demikian, bagi saya pribadi, ini adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang. Oleh karena itu, mari saya ceritakan bagaimana saya pada akhirnya “pulang” ke Native WordPress.

Papan Pengumuman, Semangat Belajar, dan Titik Awal di Lorong Kampus

Sebenarnya, saya tidak pernah merencanakan karir di dunia teknologi. Kisah saya dengan WordPress tidak dimulai dari sebuah tech startup yang gemerlap, melainkan dari lorong kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ekuitas Bandung. (saat ini berubah bentuk menjadi Universitas Ekuitas Indonesia).

Awalnya, saya mulai bekerja di sana pada tahun 2006 sebagai staf administrasi akademik. Jika melihat ijazah saya saat itu, Anda mungkin akan tersenyum. Pasalnya, saya adalah seorang sarjana Olahraga Kepelatihan (lulusan 2006), sebuah bidang yang sebetulnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan baris kode, server, ataupun tumpukan berkas administrasi kampus.

Di tengah kesibukan mengurus tumpukan pekerjaan administratif tersebut, saya menyadari satu hal penting: saya harus terus berkembang. Oleh karena itu, pada tahun 2009, saya “memaksakan diri” melanjutkan studi S2 di bidang Administrasi Pendidikan untuk memperdalam pengetahuan saya. Semuanya saya biayai sendiri dari kantong pribadi, yang jujur saja cukup menguras tabungan saat itu. Meskipun demikian, pimpinan saya sangat mendukung dan memberikan kelonggaran waktu agar saya bisa tetap kuliah sesuai jadwal. Pada akhirnya, saya berhasil menyelesaikan studi S2 tersebut pada tahun 2012.

Menemukan Solusi Digital Pertama Saya

Salah satu tugas saya saat itu adalah menyampaikan informasi kepada mahasiswa. Sayangnya, STIE Ekuitas belum memiliki portal informasi digital yang terpusat. Akibatnya, pengumuman menggunakan media yang ada saat itu, ditempel secara manual di papan pengumuman kampus. Saya pun sering melihat mahasiswa yang harus datang ke kampus hanya untuk menanyakan sepotong informasi sederhana.

Melihat hal tersebut, saya berpikir bahwa pasti ada cara yang lebih efisien. Berbekal rasa penasaran, saya mencoba mencari solusi di internet dan akhirnya menemukan WordPress.com. Tanpa latar belakang IT sama sekali, saya memberanikan diri membuat blog gratis. Awalnya, niat saya hanyalah membuat wadah informasi untuk unit Kemahasiswaan.

Tampilan Sederhana tapi Berdampak

Akan tetapi, saat mencoba buat dan betapa mudahnya menerbitkan konten, antusiasme saya tak terbendung. Bahkan, dengan tangan saya sendiri, saya membuat beberapa blog tambahan untuk unit Akademik, Keuangan, CDC, hingga informasi kampus secara umum. Perasaan saya saat itu tentu saja luar biasa senang dan sangat kaget. Pasalnya, seorang lulusan olahraga ternyata bisa membangun ruang digital yang fungsional. Walaupun tampilannya sangat sederhana, blog-blog gratisan tersebut terbukti sangat berdampak. Mahasiswa bisa mendapatkan informasi yang jelas kapan saja tanpa harus datang ke ruangan.

Tampilan STIE Ekuitas Blogs

Di tengah euforia kecil penemuan itu, saya sempat bermimpi untuk memiliki website sendiri. Saya bahkan sudah membeli sebuah domain personal: rahmatgumilar.net. Sayangnya, dengan beban pekerjaan yang ada, fokus saya terpecah. Domain itu akhirnya terbengkalai dan mimpi itu tidak sempat saya wujudkan.

Dari PowerPoint, Pandemi, hingga Jebakan Ilusi Kemudahan

Perjalanan karir saya di kampus terus bergulir. Setelah sempat dipindahkan ke bagian Umum, pada tahun 2017 saya ditugaskan di unit Career Development Center sebagai Koordinator.

Tugas di CDC salah satunya adalah melanjutkan pengelolaan media sosial unit yang sudah dirintis oleh staf sebelumnya. Di titik inilah saya mulai bersinggungan dengan dunia desain visual. Jangan bayangkan saya langsung menggunakan perangkat lunak canggih. Saat itu, saya belajar desain dan membuat video promosi hanya bermodalkan… PowerPoint. Saya membeli tutorial dan template presentasi, lalu menguliknya. Lucunya, dari situ saya malah dikenal sebagai “tukang desain” oleh rekan-rekan staf dan pimpinan kampus, hingga sering diminta bantuan untuk membuat berbagai banner acara.

Kemudian, karir saya mencapai titik puncaknya pada Maret 2020 ketika saya dipromosikan menjadi Kepala Bagian Administrasi Akademik. Ini adalah momen kebanggaan karena akhirnya saya bisa mempraktikkan ilmu S2 saya. Namun sayang, tak lama setelahnya, dunia berubah drastis akibat pandemi COVID-19. Kita dipaksa lockdown dan bekerja dari rumah.

Di tengah situasi yang serba tak pasti itu, saya justru melihat peluang. Berbekal keahlian “desain PowerPoint”, saya membuka jasa desain grafis secara online. Alhamdulillah, pecah telur. Beberapa lembaga mempercayakan desain mereka kepada saya. Dari inisiatif kecil itulah, pada akhirnya lahir nama RG Project.

Tampilan website RGProjectID saat ini

Terjebak dalam Ilusi Page Builder

Merasa bisnis ini mulai serius, saya tentu butuh etalase digital. Saya pun membeli shared hosting dan mendaftarkan domain rgproject.id. Selanjutnya, memori saya kembali ke WordPress. Pada tahun 2021, saya mengikuti kursus online pembuatan website tanpa coding. Di kelas inilah saya berkenalan dengan “sihir” bernama Page Builder, tepatnya Elementor.

Kursus Kelas Website Tanpa Coding

Bagi seseorang yang tidak bisa coding, Elementor terasa seperti tongkat ajaib. Terlebih lagi, kita dimanjakan dengan ratusan template siap pakai. Saya sangat antusias dan langsung menambahkan jasa pembuatan website ke dalam RG Project.

Namun di balik kemudahan magis itu, ternyata ada harga tersembunyi yang harus dibayar. Kursus tersebut memberikan file crack Elementor Pro untuk bahan belajar, yang jujur saja akhirnya sempat saya pakai untuk klien. Karena merasa repot harus memperbarui file manual, saya beralih mencari jasa install lisensi yang cukup murah di luaran sana.

Memasuki tahun 2022, masalah yang sesungguhnya mulai bermunculan. Ironisnya, memiliki ratusan template justru membuat saya lumpuh dalam paradox of choice. Saya sering gonta-ganti tema, bahkan tergiur menambahkan berbagai plugin versi pro. Dampaknya langsung terasa. Website yang awalnya dibuat untuk menarik klien justru menjadi lebih lambat dan berat saat diakses.

Sebuah pertanyaan eksistensial kemudian menghantam pikiran saya: Bagaimana jika tahun depan saya tidak mampu lagi memperpanjang lisensi plugin ini? Dengan kata lain, saya sadar bahwa saya sedang membangun istana megah di atas tanah sewaan yang fondasinya tidak saya kuasai sama sekali.

Titik Balik, Raksasa yang Tertidur, dan Panggilan dari Komunitas

Pada awal tahun 2023, saya mulai mencari wadah untuk berdiskusi dan berbagi. Pencarian itu membawa saya pada Komunitas WordPress Bandung. Di bulan Maret 2023, saya memberanikan diri hadir di meetup pertama saya. Yang datang saat itu sekitar 4 atau 5 orang. Namun, perjumpaan kecil itu menjadi pintu gerbang yang mengubah segalanya.

Selanjutnya, Saya diundang masuk ke grup Telegram WordPress Bandung, sebuah momen yang cukup lucu karena saat itu saya bahkan baru menginstal aplikasi Telegram di HP saya. Di dalam grup, diskusi berjalan hangat. Melihat antusiasme mereka, jiwa “tukang desain” saya terpanggil. Saya menawarkan diri untuk membantu membuat banner acara meetup bulan April (yang bertepatan dengan perayaan ulang tahun WordPress ke-20), lalu mengusulkan pembuatan media sosial di Instagram dan Facebook, dan bersedia menjadi adminnya.

Dokumentasi WordPress 20th Anniversary

Dari situ, Saya mulai rutin mendesain banner dan video pendek untuk komunitas menggunakan aplikasi Canva. Dedikasi kecil itu ternyata diapresiasi, hingga akhirnya saya bergabung menjadi Organizer WordPress Meetup Bandung. Di titik inilah saya pertama kali menyadari sesuatu yang besar: dengan mengelola acara di platform resmi komunitas, secara tidak sadar saya telah menjadi bagian dari jaringan WordPress Community global. Saya bahkan mulai mengenal sosok-sosok penting seperti Mba Devin Maeztri, yang Saya kenal sebagai perwakilan WordPress central untuk Indonesia.

Tantangan yang Membuka Mata

Ujian sesungguhnya baru datang di bulan November 2023. Saat itu, Komunitas WordPress Jakarta mengadakan event “WordPress Web Challenge”. Event tersebut merupakan event resmi dari WordPress yang dikemas berbeda, di sini para peserta ditantang untuk beradu ide, konsep, dan juga metode yang dipakai dalam menghadirkan website terbaik melalui presentasi.

Awalnya, saya sama sekali tidak terpikir untuk ikut. Namun, menjelang batas akhir pendaftaran, belum ada satu pun anggota dari Bandung yang berani maju. Merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai organizer, saya akhirnya “memaksakan diri”. Demi mengikuti tantangan itu, saya coba kembali ke dasar: belajar langsung dari sumbernya di WordPress.org, dan dipaksa membuat akun profil resmi @rahmatgumilar pada 26 November 2023 (yang saat itu datanya masih kosong melompong).

Sebagai bahan lomba, saya membangun website sekolah bernama “Noah School” murni menggunakan Block Editor bawaan dan beberapa plugin block tambahan. Kejutan pertama pun datang: ternyata ini sangat mudah. Hingga akhirnya, tibalah tanggal 24 Desember 2023. Komunitas kami mengadakan meetup spesial bertajuk “Nobar SOTW 2023 & Mendalami Fitur Full Site Editing (FSE) WordPress”. Di sanalah saya bertemu dengan Mas Rio Burhan dari Jakarta. Sesi pemaparan Mas Rio tentang Full Site Editing (FSE) menampar saya dengan sebuah pencerahan yang luar biasa. Singkatnya, ternyata selama ini saya telah mengabaikan “raksasa” yang tertidur di dalam dashboard saya sendiri.

Dokumentasi Meetup WP Bandung bulan Desember 2023

Memutuskan Untuk Ikut Event

Seusai sesi, saya memperlihatkan website Noah School kepada Mas Rio. Saat kami mengecek skor performanya, hasilnya sangat mengejutkan: semua skornya hijau bersih. Mas Rio pun langsung mendorong saya untuk mendaftar event Web Challenge. Di saat yang sama, seorang teman dari Organizer Meetup WordPress Bandung juga memutuskan ikut. Akhirnya, kami berdua maju membawa nama Komunitas WordPress Bandung.

Dokumentasi tim WordPress Bandung hadir dan berpartisipasi di acara Web Challenge Jakarta 2024

Singkat cerita, pengumuman pun tiba. Dari sekian banyak pendaftar, luar biasanya kami berdua berhasil masuk ke dalam jajaran Top 20. Acara di Jakarta itu menjadi momen di mana saya bisa berjabat tangan langsung dengan banyak developer hebat. Dengan demikian, jaringan pertemanan saya dengan sesama pengguna WordPress meluas.

Transformasi, Filosofi “GoBlog”, dan Domain yang Bangkit Kembali

Sepulang dari Web Challenge di Jakarta, ada api baru yang menyala di dada saya. Beberapa hari setelah acara itu, saya memberanikan diri menjadi pembicara online untuk pertama kalinya di meetup WP Bandung, membawakan topik “Membuat Website WordPress untuk Pemula dan UMKM”.

Sejak saat itu, saya mendedikasikan diri untuk benar-benar menyelami Gutenberg dan Block Editor. Saya belajar dari YouTube, salah satunya dari channel Jamie Marsland yang sangat menginspirasi saya. Selain itu, saya juga mulai merambah ke Grup Facebook WordPress Indonesia pada Februari 2024. Mengejutkannya, saya menyadari bahwa hampir tidak ada orang lain yang membahas Block Editor di sana. Di sinilah terjadi sebuah perubahan mindset yang radikal. Saya bergumam: “Saya tidak akan pernah berada di depan jika terus menggunakan alat yang dipakai ribuan orang lain. Sebaliknya, jika saya berani mengambil jalan sunyi menguasai alat bawaan, suatu saat saya akan menjadi yang terdepan.”

Menghidupkan Kembali Mimpi yang Tertidur

Di tengah proses transformasi ini, sebuah “mimpi lama” akhirnya terbangun. Ingat dengan domain rahmatgumilar.net yang sempat saya beli pada tahun 2013 lalu terbengkalai? Tepat pada tanggal 1 Maret 2024, saya akhirnya berhasil membeli dan menghidupkan kembali domain tersebut.

Momen ini bertepatan dengan kebijakan hosting lama saya (Niagahoster) yang ditutup. Oleh karena itu, saya memanfaatkan momen tersebut untuk memigrasikan semua website ke Hostinger. Menghidupkan kembali personal web ini bukan sekadar ajang pamer, melainkan menjadi kanvas utama pembuktian saya untuk menerapkan semua prinsip Native WordPress.

Tampilan website rahmatgumilar.net

Untuk melatih skill, saya iseng membuat desain blog bernama GoBlog (gabungan dari Go Gabut Online dan Blog). Pemilihan nama itu sebenarnya adalah pengingat satir untuk diri sendiri. Saya menanamkan di kepala bahwa saya masih “bodoh” di ekosistem ini. Oleh karena itu, ego untuk mencari jalan instan harus dibuang dan saya harus merangkak dari dasar.

Speed Contest dan Pencapaian Saya

Tentu saja, perjalanan ini tidak selalu mulus. Mas Rio Burhan kemudian mengundang saya ke grup Telegram Blocks Indonesia. Di sana, saya sempat mengikuti acara seru-seruan dengan nama Speed Contest (terinspirasi dari programnya Jamie Marsland) melawan Kang Febri, organizer WP Serang yang mahir menggunakan Elementor. Berusaha mendesain website secara live di hadapan penonton dalam waktu 30 menit menggunakan Block Editor ternyata membuat saya sangat tegang. Hasilnya? Saya kalah. Saya gagal menyelesaikan desain secara penuh tepat waktu.

Poster event Speed Contest Blocks Indonesia tahun 2024

Tapi kekalahan itu tidak mematikan langkah saya. Sebaliknya, itu menjadi bahan bakar. Saya kembali ke Chromebook saya yang selalu menemani saya belajar WordPress sampai saat ini: belajar, praktik, belajar, praktik, dan praktik lagi. Menjelang akhir 2024 saya kembali ditugaskan di unit Pusat Karir, dan diluar jam kerja saya coba membuat berbagai proyek Native WordPress tanpa plugin berat, bahkan ada yang tanpa plugin satupun saya install. Mulai dari GoShop (toko online tanpa plugin e-commerce), jualand.my.id, woorder.my.id, hingga qurbanyuk.my.id.

Saya juga memperdalam fitur bawaan lainnya yaitu Additional CSS dan Custom HTML Block, disini lah saya gunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu saya mendapatkan kode yang saya inginkan untuk menambahkan fitur di sebuah section atau halaman, jadi saya menggunakan AI tidak untuk membuat website secara keseluruhan.

Pencapaian yang paling membuat saya merinding bangga adalah GoMasjid di bulan April 2024. Saya membangun website khusus masjid tanpa plugin apa pun, lalu membagikan template-nya secara gratis. Di luar dugaan, template itu sampai saat ini sudah diunduh hingga 117 kali.

Tampilan website GoMasjid

Melihat karya saya memberikan dampak nyata bagi umat dan komunitas, saya menyadari satu hal: perjalanan saya dengan WordPress bukan lagi sekadar tentang coding atau performa, melainkan tentang apa yang bisa saya berikan kembali.

Misi Personal, Pesan untuk Ekosistem, dan Sebuah Refleksi Jujur

Setelah melewati fase transformasi itu, saya mendirikan GoBlocksID sebagai sebuah dedikasi untuk memajang hasil eksperimen Block Editor sekaligus media komunikasi dan konsultasi gratis di Telegram bagi siapa saja yang ingin belajar.

Di saat banyak orang terbuai dengan tren “vibe coding” instan atau ingin migrasi karena merasa WordPress berat, saya merasa narasi ini harus diluruskan. Sebenarnya, WordPress pada dasarnya tidak berat; ia hanya menjadi seberat beban plugin yang kita tumpuk di atasnya. Oleh sebab itu, pesan saya kepada desainer, pengguna, maupun developer pemula: jangan pernah takut mereset pemahaman kita. Kembali ke dasar (back to basics) bukanlah sebuah kemunduran, melainkan cara kita membangun fondasi yang tidak mudah goyah oleh tren sesaat. Pahami Block Editor/Site Editor, eksplorasi Full Site Editing, dan rasakan kendali penuh atas karya Anda sendiri.

Sebuah Refleksi dan Ucapan Terima Kasih

Namun, dalam menjalankan misi ini, saya juga ingin melakukan sebuah refleksi yang sangat jujur. Saya menyadari bahwa antusiasme saya terhadap Native WordPress terkadang membuat saya terlihat keras kepala. Bahkan, sikap saya yang terlalu vokal membedah fitur bawaan ini beberapa kali memicu perdebatan serius di komunitas, khususnya dengan rekan-rekan pembuat plugin.

Melalui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa apa yang saya lakukan murni merupakan bentuk berbagi jujur tentang potensi alat bawaan WordPress. Tidak sedikit pun terlintas niat untuk mengganggu ekosistem pihak ketiga. Oleh karena itu, jika cara saya menyampaikannya selama ini dirasa kurang pas, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Sebagai penutup bagian ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada orang-orang yang tetap berdiri di samping saya dan mendukung saya. Selain itu, saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para klien dan partner agency yang selama ini telah mempercayakan desain websitenya kepada saya. Walaupun latar belakang saya bukan dari IT, kepercayaan kalian adalah amanah yang sangat berharga.

Tanya Jawab (FAQ)

Karena saya ingin memiliki kendali penuh atas fondasi website saya. Menggunakan alat bawaan WordPress (Gutenberg Block Editor & FSE) menghasilkan website yang jauh lebih ringan, meminimalisir bloatware, meningkatkan skor keamanan, dan mampu mencapai skor hijau 100/100 di Google PageSpeed Insights tanpa bergantung pada pihak ketiga.

Tidak sama sekali. Itulah keindahannya. Anda bisa merancang website dari header sampai footer secara visual melalui editor bawaan. Pemahaman coding (seperti HTML/CSS dasar) sifatnya opsional dan hanya diperlukan jika Anda ingin melakukan kustomisasi tingkat lanjut.

Buktinya ada di cerita ini. Latar belakang pendidikan saya adalah olahraga, dan pekerjaan saya adalah di bidang administrasi akademik. Kuncinya bukan pada gelar, melainkan pada kemauan untuk terus mencoba, belajar “basic”, dan berjejaring dengan komunitas.

Ya, tentu saja. Meskipun saya bekerja secara full-time di kampus, saya tetap aktif melayani pembuatan website, mendesain landing page, dan membantu partner agency merancang solusi digital secara profesional di luar jam kerja.

Penutup: Siklus yang Sempurna dan Perjalanan yang Belum Usai

Ketika kita dengan tulus membagikan ilmu, semesta tampaknya memiliki cara tersendiri untuk membuka pintu-pintu baru. Tahun 2025 dan 2026 menjadi tahun di mana semua pembelajaran dari lorong kampus Ekuitas akhirnya menemukan panggungnya.

Sebagai contoh, pada bulan Mei 2025, saya diundang menjadi pembicara dalam webinar Biznet bertajuk “Website Keren Tanpa Ngoding: Emang Bisa?”.

Kejutan yang lebih besar datang di bulan September 2025. Saya diminta untuk mewakili Komunitas WordPress Indonesia menjadi salah satu pembicara di perhelatan akbar IDFest PANDI 2025 di Jakarta. Di hadapan para pelaku industri kreatif digital se-Indonesia, saya membawakan topik “Kenalan dengan WordPress Site Editor: Bikin Website Jadi Menyenangkan”. Saya ingin sharing kepada audiens bahwa mendesain website tidak harus berakhir dengan sakit kepala dan barisan kode yang rumit.

Workshop Site Editor

Hingga akhirnya, momen yang paling emosional dan tak terlupakan terjadi pada bulan November 2025. Komunitas WordPress Jakarta mengadakan Workshop Site Editor. Dan coba tebak siapa yang berdiri di depan? Saya, disandingkan sebagai pembicara bersama inspirator yang dulu membuka mata saya: Kang Rio Burhan.

Berdiri di sana, memandang lebih dari 100 peserta yang antusias ingin mempelajari Site Editor, saya sempat tertegun. Mengingat kembali masa lalu, sungguh rasanya sulit dipercaya. Siapa sangka, seorang sarjana olahraga kepelatihan yang dulu hanya mengurusi papan pengumuman kampus, kini bisa berdiri berdampingan dengan para ahli, membimbing ratusan orang untuk merangkul teknologi masa depan WordPress.

Sebelum event Workshop Site Editor, ada satu momen santai namun sangat berkesan. Saya dan Kang Rio Burhan berkesempatan hadir dalam sebuah Meetup Online gratis berbentuk podcast bersama Mas Yoko Bomb, sosok kreator yang sudah sangat dikenal di YouTube lewat konten-konten tutorial WordPressnya. Dalam sesi live bertajuk “Mengenal WordPress Site Editor” tersebut, Mas Yoko bertindak sebagai moderator. Mengusung konsep ngobrol bareng, kami membedah asyiknya menggunakan Site Editor kepada para penonton setianya (sesi ini masih bisa Anda tonton ulang di channel YouTube beliau disini). Diskusi hangat ini rupanya semakin memanaskan antusiasme komunitas.

Sebuah Siklus yang Sempurna (Full Circle)

Perjalanan panjang ini pada akhirnya membawa saya pada sebuah momen yang terasa sangat magis. Pada bulan April 2026, saya memberanikan diri mengambil peran sebagai Lead Organizer untuk acara WordPress Campus Connect (WPCC) Ekuitas University 2026. Membawa acara resmi WordPress masuk ke dalam kampus tempat saya bekerja dan tempat saya pertama kali membuat blog di 2013, rasanya benar-benar seperti menyelesaikan sebuah siklus yang sempurna (full circle).

Kesimpulannya, semua pengalaman ini mengkristalkan satu filosofi dalam hidup saya: WordPress bukan sekadar CMS, melainkan alat yang menghubungkan saya dengan karir, passion, dan komunitas. Tentu saja, saya belum akan berhenti di sini. Saat tulisan ini dibuat, saya sedang mendaftar sebagai Organizer untuk WordCamp Asia 2027 di Penang, Malaysia.

Semoga esai sederhana ini bisa menjadi percikan inspirasi bagi rekan-rekan WordPress di mana pun berada. Sesuai dengan moto hidup saya: “Berikan apa yang bisa kamu berikan, dan lakukan apa yang bisa kamu lakukan.”

Mari Berkoneksi & Berkolaborasi

Punya proyek website yang ingin dibangun dengan performa maksimal tanpa plugin berat? Ingin berdiskusi seputar fitur bawaan Gutenberg, FSE, atau sekadar bertukar cerita tentang ekosistem WordPress? Jangan ragu untuk menyapa saya yah.

👉 Kontak Saya

Ikuti juga perjalanan web development dan update seputar acara komunitas WordPress melalui media sosial saya:

Comments

2 responses

  1. Terima kasih sharingnya mas Rahmat. Saya menikmati membacanya dari awal sampai akhir, benar-benar menginspirasi untuk terus semangat untuk memberi apa yang bisa diberikan, melakukan apa yang bisa dilakukan!

    1. Alhamdulillah, sama-sama Mas Iqbal. Terima kasih banyak sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca tulisan sederhana ini sampai akhir. Senang rasanya jika cerita dan moto kecil tersebut bisa ikut menyalakan semangat. Mari kita sama-sama terus berproses dan berkontribusi dengan apa yang kita miliki. Salam sukses dan sehat selalu 🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *